Jumat, 01 Oktober 2010

Misteri Pegunungan Jayawijaya dulunya dasar laut ?



BAGI pendaki gunung, mendaki jajaran Pegunungan Jayawijaya adalah sebuah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu terdapat titik tertinggi di Indonesia, yakni Carstensz Pyramide dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Jangan heran jika pendaki gunung papan atas kelas dunia selalu berlomba untuk mendaki salah satu titik yang masuk dalam deretan tujuh puncak benua tersebut. Apalagi dengan keberadaan salju abadi yang selalu menyelimuti puncak itu, membuat hasrat kian menggebu untuk menggapainya.
Tetapi, siapa yang menyangka jika puncak bersalju itu dahulunya adalah bagian dari dasar lautan yang sangat dalam!

Pulau Papua mulai terbentuk pada 60 juta tahun yang lalu. Saat itu, pulau ini masih berada di dasar laut yang terbentuk oleh bebatuan sedimen. Pengendapan intensif yang berasal dari benua Australia dalam kurun waktu yang panjang menghasilkan daratan baru yang kini bernama Papua. Saat itu, Papua masih menyatu dengan Australia,

Keberadaan Pulau Papua saat ini, lanjutnya, tidak bisa dilepaskan dari teori geologi yang menyebutkan bahwa dunia ini hanya memiliki sebuah benua yang bernama Pangea pada 250 juta tahun lalu. Pada kurun waktu 240 juta hingga 65 juta tahun yang lalu, benua Pangea pecah menjadi dua dengan membentuk benua Laurasia dan benua Eurasia, yang menjadi cikal bakal pembentukan benua dan pegunungan yang saat ini ada di seluruh dunia.

Pada kurun waktu itu juga, benua Eurasia yang berada di belahan bumi bagian selatan pecah kembali menjadi benua Gonwana yang di kemudian hari akan menjadi daratan Amerika Selatan, Afrika, India, dan Australia.

Saat itu, benua Australia dengan benua-benua yang lain dipisahkan oleh lautan. Di lautan bagian utara itulah batuan Pulau Papua mengendap yang menjadi bagian dari Australia akan muncul di kemudian hari,

Pengendapan yang sangat intensif dari benua kanguru ini, sambungnya, akhirnya mengangkat sedimen batu ke atas permukaan laut. Tentu saja proses pengangkatan ini berdasarkan skala waktu geologi dengan kecepatan 2,5 km per juta tahun.
Proses ini masih ditambah oleh terjadinya tumbukan lempeng antara lempeng Indo-Pasifik dengan Indo-Australia di dasar laut. Tumbukan lempeng ini menghasilkan busur pulau, yang juga menjadi cikal bakal dari pulau dan pegunungan di Papua.

Minggu, 12 September 2010

Ramadhan-Mu

Pagi hari masih diselimuti kabut tipis yang dingin menggigit, mega awan tipis menyelimuti langit, matahari terhalang tidak seperti biasanya pagi hari dikota Abepura yang biasa panas .
Semesta seakan bertasbih, bernyanyi riang bersama waktu yang berkejaran di bulan mulia ini. Inilah Ramadhan-Mu, bulan yang telah dinanti oleh para penghamba-Mu, waktu yang telah ditunggu oleh mereka yang rindu kepada-Mu, saat yang selalu dirindui oleh mereka yang benar-benar mencintai-Mu.
Ramadhan-Mu adalah sketsa perjalanan tentang penghambaan. Ia adalah penguat bagi langkah-langkah kaki yang mulai goyah karena terkikis oleh dunia pada hari-hari sebelumnya. Ramadhan-Mu, adalah bulan perbaikan. Ramadhan-Mu adalah bulan penuh cinta.
Dalam sebuah kisah, seorang Arab Badui pernah datang kepada Nabi Saw, lalu bertanya,
Add caption
“Wahai Rassulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang apabila aku mengerjakannya, masuk surga. Rasul Saw. menjawab, Sembahlah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu… dan kerjakan puasa Ramadhan

Jumat, 27 Agustus 2010

Rinduku pada-Mu


Dupa rindu pada api..
Api rindu pada angin..
Angin rindu pada daun..
Daun rindu pada tanah..
Tanah rindu pada hujan..
Hujan rindu pada sungai..

Sungai rindu pada laut..
Laut rindu pada samudra..
Samudra rindu pada gunung..
Gunung rindu pada langit..
Langit rindu pada semesta..
Semesta rindu pada Sang Pencipta..
Sang Pencipta rindu pada hati yg merindukanNYA..

Selasa, 08 Juni 2010

demi cintaku untukmu

tentang segala hal yg telah terjadi...

tentang apapun yg akan pikirkan dan yang akan kulakukan...

semuanya hanya untukmu...